Rabu, 13 Oktober 2010

Wedding dream

Hmmm, wedding dream.. Yeah aga terlalu berat sepertinya..
Gak tau dgn yg lain tapi aku salah satu anak perempuan yang memimpikan sebuah pernikahan yg indah bak putri2 kerajaan.
Ketika kecil aku memimpikan duduk dipelaminan dengan baju putih yang panjang, begitu syahdu dan indah
Dari dulu sampai sekarang seneng sekali sama yang sesuatu yang berbau pernikahan. Dari majalah sampai yg lebih modern aku jambangin. Link2 tentang wedding dibukain satu2, baju2 bridal dan bukan hanya saat ini saja (saat da "waktunya") tapi mang dr dulu kecil mang da doyan ma beginian hanya sekarang lebih modern.

Ketika umur da kepala dua, da kerja, da waktunya buat menuju kesana, n kebetulan da pendampingnya juga pemikiran kesana lebih mengebu2.
Da hitung2 mau begini begitu, mau ini dan itu.
Walaupun sebenarnya yang harus lebih dipikirkan adalah bagaimana kehidupan setelah menikah bukan saat "pestanya". Tapi... tetep saja ni otak ngeyel pengen ini dan itu yang tidak membutuhkan biaya yang sedikit tapi bejibun.
Dan sebenarnya juga uang yang sebenarnya bisa buat bangun rumah tapi lebih condong untuk biaya pernikahan.

Salah atau tidaknya masih blm berasa. Hanya saja untuk mewujudkannya masih banyak yang harus diperhitungkan. Buanyak sekali bahkan.
Dari persiapan mental sampai materi.

Kita bisa mempersiapkan banyak hal, tapi bagaimanapun juga itu adalah sebuah rencana materi rohani maupun jasmani
Dipikir2 Persiapan hati itu memang lebih penting.
Sudah siapkah diriku?
Sudah siapkah dirinya?
Sudah siapkah berbagi?
Sudah siapkah hidup bersama?
Sudah siapkah ada batasan2?
Sudah siapkah menanggalkan keegoisan?
Sudah siapkah saling mengerti?Saling percaya?
Dan saling saling yang lainnya...

Pernikahan tidak hanya sekedar pernikahan.
Gue seka elo, elo suka gue, kita nikah besok ya...

Jika semua pernikahan terjadi hanya dengan alasan karena suatu keharusan, karena suatu dasar saling suka saja, Bubrah semua...
Dasar cinta memang kuat.. Hanya saja dasar materi pun tidak kalah penting.
Bukan bersikap matrealistis tapi realistis.
Bukan juga karena kekayaan orang tua semata, tetapi kekayaan atau suatu penghasilan yang cukup yang dibangun berdua menuju bahtera kebahagiaan.

Hmm.. Berat..

Cukup puaskah diriku dengan keadaan sekarang ini?
Sudah tercapai semuakah yg kuinginkan?
Dan sekali lagi pertanyaan2 yang diatas tadi muncul,, lebih banyak bahkan

Dan pertanyaan yang muncul (lagi)
Sudah siapkah menghadapi kenyataan???

4 komentar:

  1. cieeeee beraaaaattttttt tenannnn....
    aku baca ini langsung tambah abot mikire'e wkwkwkwk

    dan saya bilang, sepertinya saya belum siap jasmani rohani, material spiritual wkwkwkkw...

    *kapan ya aku berani membayangkanny....

    BalasHapus
  2. hadeeehh,,,itu sudah yin....

    BalasHapus
  3. sudah apa ya? *aku ra dong
    hehehehehe

    BalasHapus
  4. nek undangane buat acara di Jogja pasti tak usahake dtg turr nek acarane g Sulawesi pow Papua maap tie gak kuat beli tiketnya :p

    BalasHapus

thx sudah berkomentar baca yang lainya juga yahc??